Pray For Camaba



Oleh: Ridho Al Fajri

Tulisan ini dari bocah usil yang meniti perjuangan ilmu di tanah Nabi Musa, Tulisan ini bukan sok mengajari karna kalian lebih pintar semestinya, Ini hanya sebuah tulisan yang lebih dekatnya sebagai "peringatan", karena kita muslim dan Islam itu saling mengingatkan, benar bukan ? Nah karna itu, sini saya bisikkan.

Merasa hebat atas segala hal yang sejatinya hanya Tuhan titipkan sementara dalam hidup. Harta, tahta dan popularitas. Bekerjasama menciptakan image baru di dalam diri. Melenakan, membutakan, lalu pelan-pelan merenggut sisi kemanusiaan.

Berteriak pada dunia, "Ini hasil kerja kerasku!"
Lalu mulailah memasang mahkota egois di atas kepala. Mengenakan jubah kesombongan lengkap dengan lencana kesemena-menaan. Memperlakukan orang lain mengikut strata masing-masing. Yang dianggap sejajar, dirangkul erat. Yang kiranya rendah, taruh saja kaki di atas kepalanya. Injak!

Sikap apa ini? Mengoceh bak sengatan ular, bukannya mengayomi seperti khalifah. Jika kami sekumpulan umat yang salah, apakah harus dihukum dengan segala titik kelemahan?
Pikiran seperti apa yang kalian tumbuh kembangkan di dalam otak? Suri tauladan siapa yang kalian tiru? Apa pun jawabannya, yang jelas pikiran kami tak setumpul apa yang kalian simpulkan.

Jangan lupa, Tuan! Bahwa hukum sebab-akibat masih tetap dan akan terus berlaku hingga kapan pun. Jika hukum sebab-akibat membuat daya kerja otakmu melemah, kita sederhanakan namanya menjadi 'KARMA'. Perlakuanmu pada orang lain akan berbalik padamu persis, bahkan tidak jarang melebihi. Entah baik atau pun buruk, sama saja pukul rata.

Tak percaya? Boleh saja. Persilakan waktu menjabarkan segalanya padamu di saat yang paling tepat! Semesta tidak pernah makan gaji buta. Kadang, ia bekerja lebih cepat dari yang kita duga. Sadar dirilah, sebelum segalanya menjadi benar-benar terlambat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar