Dilematis! Camaba, Masisir, KBRI dan Wajib Bayar Asrama 50 USD

Sumber  Foto: Google

Oleh: Rahmah Rasyidah

Selain jumlah Camaba tahun ini yang sangat fantastis (1468 orang camaba), perihal wajib asrama dengan membayar 50$ perbulan juga sedang hangat diperbincangkan belakangan ini. 

Angka 50$ untuk asrama memang tidak sedikit. Hitungannya, jika 50$ untuk biaya asrama, belum lagi kebutuhan pribadi, transportasi ngaji atau berorganisasi bagi yang masuk barisan para aktivis plus untuk membayar biaya Daurul Lughah, total minimal yang dibutuhkan kurang lebih sekitar 100$ perbulan. Untuk kalangan menengah,  biaya segitu sudah cukup nyekik pernafasan, apalagi untuk kalangan ke bawah. Nah, realita yang ada menunjukkan bahwa banyak Camaba dari tahun ke tahun (hingga tidak menutupi tahun ini) adalah dari kalangan menengah ke bawah. Apakah angka '50' ini memberatkan? Jelas saja, iya. 

Posisi ini sangat dilematis sebenarnya. Mengingat tujuan utama dibangun asrama ini adalah sebagai Hibah -bukan aset negara- kepada al Azhar atas jasanya selama ini terhadap Indonesia. Jika sudah dianggap Hibah, seyogyanya segala hal yang berkaitan dengan bangunan tersebut menjadi tanggungjawab pihak yang dihibahkan. Namun ternyata,  kondisi Mesir yg semakin rumit merubah keadaan hingga menuntut biaya operasional tetap dikembalikan kepada pemerintah kita. 


Terlepas dari itu semua, kebijakan ini diambil tentu saja atas pertimbangan yang sangat matang. Pemerintah kita -dalam hal ini KBRI Cairo- sudah mengerahkan negosiasi terbaik mereka dihadapan pihak Al Azhar. Disampaikan juga bahwa angka '50' ini sudah ditetapkan oleh pihak Al Azhar sejak lama. Melewati musyawarah yang sangat alot dan tawar menawar diplomatis dengan KBRI Cairo. Bahkan saat itu, nilai tukar dolar - pound Mesir masih stabil. Dilematis kan? Iya. Apakah KBRI Cairo sudah mengusahakan keringanan biaya dan meminimalisir beban biaya asrama Indonesia untuk Masisir? Tentu saja juga, iya.

Lalu muncul pertanyaan, "Mengapa harus Camaba?" 

Saya jadi teringat isu hangat yang diangkat sekelompok Masisir terkait asrama yang tak kunjung dihuni beberapa bulan silam. Sehari sebelum LPJ saya di Wihdah (sekitar tgl 5 Maret 2017)  saya menyempatkan bersilaturahmi dengan Pak Dubes dan Pak DCM KBRI Cairo. Disela silaturahmi, kami juga membahas berita 'Asrama Indonesia di Cairo jadi sarang Jin'  ( baca :  http://www.kompasiana.com/coffeeaceh/asrama-indonesia-di-komplek-univ-al-azhar-mesir-jadi-sarang-jin_58c3f7ed337b61cb04181e74 ) ini. Dengan sangat bijak saat itu Bapak Dubes meminta pendapat kami, para pemimpin organisasi besar Masisir -saat itu turut hadir Presiden, Wapres PPMI dan wakil Wihdah- terkait hal tersebut.

Berangkat dari sana, kami semua sepakat bahwa asrama harus segera difungsikan. Sebagai jalan tengah agar asrama tetap bisa dihuni dengan kebijakan tetap membayar adalah jika dihuni oleh Camaba. Karena akan banyak manfaat yang bisa diambil oleh mereka ( baca juga : http://www.ppmimesir.com/2017/06/polemik-sistem-wajib-asrama-maba-tahun.html?m=1 )  ( http://www.informatikamesir.com/2017/06/asrama-50-dollar.html?m=1 ). 

Di forum itu juga sempat saya sampaikan, bahwa kalaupun harus dihuni oleh Camaba dan berbayar, jika memungkinkan biayanya tidak sampai melebihi standar kehidupan Masisir diluar asrama, yaitu sebesar 300-500 le perbulan. Well, aspirasi-aspirasi sudah disampaikan. Saat itu kami tinggal menunggu hasil musyawarah final terkait nominal antara pihak Azhar dan KBRI. 

Lalu terkait peranan Diktis Kemenag yang pernah menyampaikan bahwa sudah mengalokasikan dana sejumlah 5 M utk penghuni asrama ini masih dipertanyakan. Mereka menyampaikan saat kunjungan saya dan Wapres PPMI, Sdr. Ikhwan Hakim, awal April lalu ke Diktis Kemenag bahwa akan ada dana beasiswa dari Kemenag untuk para penghuni asrama tersebut. Pada akhirnya, mereka yang bayar 50$ perbulan jika ditotal hanya akan membayar 25$ perbulan. Namun kabar ini ditepis kebenarannya oleh Atdikbud KBRI Cairo. Hemat saya, meski benar sudah dialokasikan, tapi akan susah cair tahun ini, kemungkinan baru cair tahun depan.

Jadi kondisinya bisa digambarkan seperti ini, Al Azhar mau ini, Masisir mau itu,  KBRI berusaha sekuat tenaga memeras otak agar kalimat 'ini' dan 'itu' bisa menjadi 'iti' atau 'inu'. Meski pada akhirnya nanti, tetap akan ada pihak yang dikorbankan. Dilematis kan?

Saya selaku bagian dari Masisir dan sempat menjabat ketua Wihdah tahun lalu berharap kita semua dapat menemukan solusi terbaik atas permasalahan ini. Syukur-syukur jika ternyata angka 50 masih bisa dinegosiasi kembali .

Namun, jika angka '50' ini sudah diketok palu dan final, ada baiknya jika KBRI Cairo dapat duduk 'lesehan' bersama seluruh elemen aktivis Masisir,  baik PPMI,  Wihdah, kekeluargaan dan sejumlah kru buletin Masisir untuk musyawarah dan menelusuri kembali kronologis penetapan kebijakan ini agar tidak terjadi salah paham,  saling menyalahkan dan cari aman. Nantinya para aktivis ini yang akan jadi perpanjangan lidah kepada para Camaba agar dapat dipahami bersama.

Terakhir, mari kita doakan agar Allah Swt melimpahkan rahmat dan perlindunganNya kepada al Azhar, para UlamaNya,  KBRI Cairo dan segenap Masisir serta melepaskan umat Islam di seluruh dunia dari cobaan duniawai yang sedang melanda, Amin ya rabbal alamin 

Wallahualam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar