Dilematis! Camaba, Masisir, KBRI dan Wajib Bayar Asrama 50 USD

/ Juni 16, 2017
Sumber  Foto: Google

Oleh: Rahmah Rasyidah

Selain jumlah Camaba tahun ini yang sangat fantastis (1468 orang camaba), perihal wajib asrama dengan membayar 50$ perbulan juga sedang hangat diperbincangkan belakangan ini. 

Angka 50$ untuk asrama memang tidak sedikit. Hitungannya, jika 50$ untuk biaya asrama, belum lagi kebutuhan pribadi, transportasi ngaji atau berorganisasi bagi yang masuk barisan para aktivis plus untuk membayar biaya Daurul Lughah, total minimal yang dibutuhkan kurang lebih sekitar 100$ perbulan. Untuk kalangan menengah,  biaya segitu sudah cukup nyekik pernafasan, apalagi untuk kalangan ke bawah. Nah, realita yang ada menunjukkan bahwa banyak Camaba dari tahun ke tahun (hingga tidak menutupi tahun ini) adalah dari kalangan menengah ke bawah. Apakah angka '50' ini memberatkan? Jelas saja, iya. 

Posisi ini sangat dilematis sebenarnya. Mengingat tujuan utama dibangun asrama ini adalah sebagai Hibah -bukan aset negara- kepada al Azhar atas jasanya selama ini terhadap Indonesia. Jika sudah dianggap Hibah, seyogyanya segala hal yang berkaitan dengan bangunan tersebut menjadi tanggungjawab pihak yang dihibahkan. Namun ternyata,  kondisi Mesir yg semakin rumit merubah keadaan hingga menuntut biaya operasional tetap dikembalikan kepada pemerintah kita. 


Terlepas dari itu semua, kebijakan ini diambil tentu saja atas pertimbangan yang sangat matang. Pemerintah kita -dalam hal ini KBRI Cairo- sudah mengerahkan negosiasi terbaik mereka dihadapan pihak Al Azhar. Disampaikan juga bahwa angka '50' ini sudah ditetapkan oleh pihak Al Azhar sejak lama. Melewati musyawarah yang sangat alot dan tawar menawar diplomatis dengan KBRI Cairo. Bahkan saat itu, nilai tukar dolar - pound Mesir masih stabil. Dilematis kan? Iya. Apakah KBRI Cairo sudah mengusahakan keringanan biaya dan meminimalisir beban biaya asrama Indonesia untuk Masisir? Tentu saja juga, iya.

Lalu muncul pertanyaan, "Mengapa harus Camaba?" 

Saya jadi teringat isu hangat yang diangkat sekelompok Masisir terkait asrama yang tak kunjung dihuni beberapa bulan silam. Sehari sebelum LPJ saya di Wihdah (sekitar tgl 5 Maret 2017)  saya menyempatkan bersilaturahmi dengan Pak Dubes dan Pak DCM KBRI Cairo. Disela silaturahmi, kami juga membahas berita 'Asrama Indonesia di Cairo jadi sarang Jin'  ( baca :  http://www.kompasiana.com/coffeeaceh/asrama-indonesia-di-komplek-univ-al-azhar-mesir-jadi-sarang-jin_58c3f7ed337b61cb04181e74 ) ini. Dengan sangat bijak saat itu Bapak Dubes meminta pendapat kami, para pemimpin organisasi besar Masisir -saat itu turut hadir Presiden, Wapres PPMI dan wakil Wihdah- terkait hal tersebut.

Berangkat dari sana, kami semua sepakat bahwa asrama harus segera difungsikan. Sebagai jalan tengah agar asrama tetap bisa dihuni dengan kebijakan tetap membayar adalah jika dihuni oleh Camaba. Karena akan banyak manfaat yang bisa diambil oleh mereka ( baca juga : http://www.ppmimesir.com/2017/06/polemik-sistem-wajib-asrama-maba-tahun.html?m=1 )  ( http://www.informatikamesir.com/2017/06/asrama-50-dollar.html?m=1 ). 

Di forum itu juga sempat saya sampaikan, bahwa kalaupun harus dihuni oleh Camaba dan berbayar, jika memungkinkan biayanya tidak sampai melebihi standar kehidupan Masisir diluar asrama, yaitu sebesar 300-500 le perbulan. Well, aspirasi-aspirasi sudah disampaikan. Saat itu kami tinggal menunggu hasil musyawarah final terkait nominal antara pihak Azhar dan KBRI. 

Lalu terkait peranan Diktis Kemenag yang pernah menyampaikan bahwa sudah mengalokasikan dana sejumlah 5 M utk penghuni asrama ini masih dipertanyakan. Mereka menyampaikan saat kunjungan saya dan Wapres PPMI, Sdr. Ikhwan Hakim, awal April lalu ke Diktis Kemenag bahwa akan ada dana beasiswa dari Kemenag untuk para penghuni asrama tersebut. Pada akhirnya, mereka yang bayar 50$ perbulan jika ditotal hanya akan membayar 25$ perbulan. Namun kabar ini ditepis kebenarannya oleh Atdikbud KBRI Cairo. Hemat saya, meski benar sudah dialokasikan, tapi akan susah cair tahun ini, kemungkinan baru cair tahun depan.

Jadi kondisinya bisa digambarkan seperti ini, Al Azhar mau ini, Masisir mau itu,  KBRI berusaha sekuat tenaga memeras otak agar kalimat 'ini' dan 'itu' bisa menjadi 'iti' atau 'inu'. Meski pada akhirnya nanti, tetap akan ada pihak yang dikorbankan. Dilematis kan?

Saya selaku bagian dari Masisir dan sempat menjabat ketua Wihdah tahun lalu berharap kita semua dapat menemukan solusi terbaik atas permasalahan ini. Syukur-syukur jika ternyata angka 50 masih bisa dinegosiasi kembali .

Namun, jika angka '50' ini sudah diketok palu dan final, ada baiknya jika KBRI Cairo dapat duduk 'lesehan' bersama seluruh elemen aktivis Masisir,  baik PPMI,  Wihdah, kekeluargaan dan sejumlah kru buletin Masisir untuk musyawarah dan menelusuri kembali kronologis penetapan kebijakan ini agar tidak terjadi salah paham,  saling menyalahkan dan cari aman. Nantinya para aktivis ini yang akan jadi perpanjangan lidah kepada para Camaba agar dapat dipahami bersama.

Terakhir, mari kita doakan agar Allah Swt melimpahkan rahmat dan perlindunganNya kepada al Azhar, para UlamaNya,  KBRI Cairo dan segenap Masisir serta melepaskan umat Islam di seluruh dunia dari cobaan duniawai yang sedang melanda, Amin ya rabbal alamin 

Wallahualam 
Sumber  Foto: Google

Oleh: Rahmah Rasyidah

Selain jumlah Camaba tahun ini yang sangat fantastis (1468 orang camaba), perihal wajib asrama dengan membayar 50$ perbulan juga sedang hangat diperbincangkan belakangan ini. 

Angka 50$ untuk asrama memang tidak sedikit. Hitungannya, jika 50$ untuk biaya asrama, belum lagi kebutuhan pribadi, transportasi ngaji atau berorganisasi bagi yang masuk barisan para aktivis plus untuk membayar biaya Daurul Lughah, total minimal yang dibutuhkan kurang lebih sekitar 100$ perbulan. Untuk kalangan menengah,  biaya segitu sudah cukup nyekik pernafasan, apalagi untuk kalangan ke bawah. Nah, realita yang ada menunjukkan bahwa banyak Camaba dari tahun ke tahun (hingga tidak menutupi tahun ini) adalah dari kalangan menengah ke bawah. Apakah angka '50' ini memberatkan? Jelas saja, iya. 

Posisi ini sangat dilematis sebenarnya. Mengingat tujuan utama dibangun asrama ini adalah sebagai Hibah -bukan aset negara- kepada al Azhar atas jasanya selama ini terhadap Indonesia. Jika sudah dianggap Hibah, seyogyanya segala hal yang berkaitan dengan bangunan tersebut menjadi tanggungjawab pihak yang dihibahkan. Namun ternyata,  kondisi Mesir yg semakin rumit merubah keadaan hingga menuntut biaya operasional tetap dikembalikan kepada pemerintah kita. 


Terlepas dari itu semua, kebijakan ini diambil tentu saja atas pertimbangan yang sangat matang. Pemerintah kita -dalam hal ini KBRI Cairo- sudah mengerahkan negosiasi terbaik mereka dihadapan pihak Al Azhar. Disampaikan juga bahwa angka '50' ini sudah ditetapkan oleh pihak Al Azhar sejak lama. Melewati musyawarah yang sangat alot dan tawar menawar diplomatis dengan KBRI Cairo. Bahkan saat itu, nilai tukar dolar - pound Mesir masih stabil. Dilematis kan? Iya. Apakah KBRI Cairo sudah mengusahakan keringanan biaya dan meminimalisir beban biaya asrama Indonesia untuk Masisir? Tentu saja juga, iya.

Lalu muncul pertanyaan, "Mengapa harus Camaba?" 

Saya jadi teringat isu hangat yang diangkat sekelompok Masisir terkait asrama yang tak kunjung dihuni beberapa bulan silam. Sehari sebelum LPJ saya di Wihdah (sekitar tgl 5 Maret 2017)  saya menyempatkan bersilaturahmi dengan Pak Dubes dan Pak DCM KBRI Cairo. Disela silaturahmi, kami juga membahas berita 'Asrama Indonesia di Cairo jadi sarang Jin'  ( baca :  http://www.kompasiana.com/coffeeaceh/asrama-indonesia-di-komplek-univ-al-azhar-mesir-jadi-sarang-jin_58c3f7ed337b61cb04181e74 ) ini. Dengan sangat bijak saat itu Bapak Dubes meminta pendapat kami, para pemimpin organisasi besar Masisir -saat itu turut hadir Presiden, Wapres PPMI dan wakil Wihdah- terkait hal tersebut.

Berangkat dari sana, kami semua sepakat bahwa asrama harus segera difungsikan. Sebagai jalan tengah agar asrama tetap bisa dihuni dengan kebijakan tetap membayar adalah jika dihuni oleh Camaba. Karena akan banyak manfaat yang bisa diambil oleh mereka ( baca juga : http://www.ppmimesir.com/2017/06/polemik-sistem-wajib-asrama-maba-tahun.html?m=1 )  ( http://www.informatikamesir.com/2017/06/asrama-50-dollar.html?m=1 ). 

Di forum itu juga sempat saya sampaikan, bahwa kalaupun harus dihuni oleh Camaba dan berbayar, jika memungkinkan biayanya tidak sampai melebihi standar kehidupan Masisir diluar asrama, yaitu sebesar 300-500 le perbulan. Well, aspirasi-aspirasi sudah disampaikan. Saat itu kami tinggal menunggu hasil musyawarah final terkait nominal antara pihak Azhar dan KBRI. 

Lalu terkait peranan Diktis Kemenag yang pernah menyampaikan bahwa sudah mengalokasikan dana sejumlah 5 M utk penghuni asrama ini masih dipertanyakan. Mereka menyampaikan saat kunjungan saya dan Wapres PPMI, Sdr. Ikhwan Hakim, awal April lalu ke Diktis Kemenag bahwa akan ada dana beasiswa dari Kemenag untuk para penghuni asrama tersebut. Pada akhirnya, mereka yang bayar 50$ perbulan jika ditotal hanya akan membayar 25$ perbulan. Namun kabar ini ditepis kebenarannya oleh Atdikbud KBRI Cairo. Hemat saya, meski benar sudah dialokasikan, tapi akan susah cair tahun ini, kemungkinan baru cair tahun depan.

Jadi kondisinya bisa digambarkan seperti ini, Al Azhar mau ini, Masisir mau itu,  KBRI berusaha sekuat tenaga memeras otak agar kalimat 'ini' dan 'itu' bisa menjadi 'iti' atau 'inu'. Meski pada akhirnya nanti, tetap akan ada pihak yang dikorbankan. Dilematis kan?

Saya selaku bagian dari Masisir dan sempat menjabat ketua Wihdah tahun lalu berharap kita semua dapat menemukan solusi terbaik atas permasalahan ini. Syukur-syukur jika ternyata angka 50 masih bisa dinegosiasi kembali .

Namun, jika angka '50' ini sudah diketok palu dan final, ada baiknya jika KBRI Cairo dapat duduk 'lesehan' bersama seluruh elemen aktivis Masisir,  baik PPMI,  Wihdah, kekeluargaan dan sejumlah kru buletin Masisir untuk musyawarah dan menelusuri kembali kronologis penetapan kebijakan ini agar tidak terjadi salah paham,  saling menyalahkan dan cari aman. Nantinya para aktivis ini yang akan jadi perpanjangan lidah kepada para Camaba agar dapat dipahami bersama.

Terakhir, mari kita doakan agar Allah Swt melimpahkan rahmat dan perlindunganNya kepada al Azhar, para UlamaNya,  KBRI Cairo dan segenap Masisir serta melepaskan umat Islam di seluruh dunia dari cobaan duniawai yang sedang melanda, Amin ya rabbal alamin 

Wallahualam 
Continue Reading


Oleh: Ridho Al Fajri

Tulisan ini dari bocah usil yang meniti perjuangan ilmu di tanah Nabi Musa, Tulisan ini bukan sok mengajari karna kalian lebih pintar semestinya, Ini hanya sebuah tulisan yang lebih dekatnya sebagai "peringatan", karena kita muslim dan Islam itu saling mengingatkan, benar bukan ? Nah karna itu, sini saya bisikkan.

Merasa hebat atas segala hal yang sejatinya hanya Tuhan titipkan sementara dalam hidup. Harta, tahta dan popularitas. Bekerjasama menciptakan image baru di dalam diri. Melenakan, membutakan, lalu pelan-pelan merenggut sisi kemanusiaan.

Berteriak pada dunia, "Ini hasil kerja kerasku!"
Lalu mulailah memasang mahkota egois di atas kepala. Mengenakan jubah kesombongan lengkap dengan lencana kesemena-menaan. Memperlakukan orang lain mengikut strata masing-masing. Yang dianggap sejajar, dirangkul erat. Yang kiranya rendah, taruh saja kaki di atas kepalanya. Injak!

Sikap apa ini? Mengoceh bak sengatan ular, bukannya mengayomi seperti khalifah. Jika kami sekumpulan umat yang salah, apakah harus dihukum dengan segala titik kelemahan?
Pikiran seperti apa yang kalian tumbuh kembangkan di dalam otak? Suri tauladan siapa yang kalian tiru? Apa pun jawabannya, yang jelas pikiran kami tak setumpul apa yang kalian simpulkan.

Jangan lupa, Tuan! Bahwa hukum sebab-akibat masih tetap dan akan terus berlaku hingga kapan pun. Jika hukum sebab-akibat membuat daya kerja otakmu melemah, kita sederhanakan namanya menjadi 'KARMA'. Perlakuanmu pada orang lain akan berbalik padamu persis, bahkan tidak jarang melebihi. Entah baik atau pun buruk, sama saja pukul rata.

Tak percaya? Boleh saja. Persilakan waktu menjabarkan segalanya padamu di saat yang paling tepat! Semesta tidak pernah makan gaji buta. Kadang, ia bekerja lebih cepat dari yang kita duga. Sadar dirilah, sebelum segalanya menjadi benar-benar terlambat!

Pray For Camaba

by on Juni 16, 2017
Oleh: Ridho Al Fajri Tulisan ini dari bocah usil yang meniti perjuangan ilmu di tanah Nabi Musa, Tulisan ini bukan sok mengajari k...

*Karya: Nailah Khairunnisa

Kau memandang cerah
Masa depan yang dianggap indah
Kehidupan nan maha megah
Pendidikan tak susah payah
Kau memandang cerah

Musuhmu dekat namun tak jumpa
Karibmu jauh meski di sampingmu
Benar, walau jauh terasa dekat
Kendati dekat, tak rasa ada
Hiks!

Ini negeri porak poranda
Saat kau mulai ternoda
Saat hati semakin hampa
Negeri ini porak poranda
Hiks!

Berjumpa tak bertegur sapa
Hanya tergugu tanpa kata
Seolah engkau jantung pisang
Tak peduli hanya melenggang
Hiks!


Sungguh ini tak mesti benang basah
Teknologi melahirkan banyak kesuksesan
Keelokan semakin bermekaran
Namun penyalahgunaan lagi kelewatan
Sebab musuh Islam basah kerongkongan
Hiks!
Hiks!

Wahai anak bangsa
Engkau penerus bangsa
Penegak keadilan
Menebarkan kesejahteraan
Tinggalkan kemewahan
dunia…
Dunia takkan sepadan
dengan…
akhirat nan menjanjikan

Cairo, April 2017
*Puisi ini mendapatkan peringkat ke-3 di Lomba Menulis Milad PKS Ke-19, diumumkan pada acara Award, 29 April 2017

Hiks!

by on April 29, 2017
*Karya: Nailah Khairunnisa Kau memandang cerah Masa depan yang dianggap indah Kehidupan nan maha megah Pendidikan tak susah p...

*Karya: Zakia Rahmadani

Hidupkan hatimu dengan kalam Illahi
Pantiklah pelitanya dengan al Qur'an
Karena hati adalah
Ia yang bisa mati
Bisa berdebu
Bisa kotor
Bisa pecah
Bisa hancur
Sekiranya kau masih mampu
Sekiranya nikmat bicara masih Allah kekalkan di lisanmu
Sekiranya, amanahmu banyak sekali pun
Sekiranya, jadwalmu hancur sekali pun
Bukalah mushafmu
Ia menyalakan api kehidupan di dadamu
Ia membersihkan debu di pantaran qalbumu
Ia mengalirkan mata air keikhlasan dan kebahagiaan
Ia menguatkanmu, meski ragamu sudah sangat lemah
Ia mengatur jadwalmu
Ia kalam illahi yang suci

Madinat Nast, Kairo

Bacalah, Bacalah, Bacalah

by on April 29, 2017
*Karya: Zakia Rahmadani Hidupkan hatimu dengan kalam Illahi Pantiklah pelitanya dengan al Qur'an Karena hati adalah Ia yang bisa mat...

*Karya: Ridho Al Fajri Salahku… Menggenapi ganjil yang terbiasa tunggal Salahku… Menggenggam kepal yang mengatup erat Salahku… Merangkul peluk yang mustahil terbuka Salahku, meratap-ratap! Aku terlalu bodoh memaksakan hati untuknya yang berlalu Mengejarnya hingga jatuh tersungkur Menggenggam rindu yang membakar setengah asa Lalu terjembab pada kesalahanku sendiri Untuk memujanya dalam nestapa Yah, mungkin aku si berandal karet Mengeja satu huruf yang tak ada dalam deret alfabet Mengkobar-kobar, lalu kutelan sendiri apinya Hah, apakah ini gila? Sedang yang kau kata batu
yang kusangka cinta

Realita Hati

by on April 24, 2017
*Karya: Ridho Al Fajri Salahku… Menggenapi ganjil yang terbiasa tunggal Salahku… Menggenggam kepal yang mengatup erat Salahku… Merangku...

*Oleh: Zakia Rahmadani

"Saat penamu menulis, seketika itu lembaran kertas ingin terbang jauh melintasi angkasa. Sudahkah kau siap?"

Menulislah, karena menulis bukanlah perkara bisa atau tidak, bukan juga bakat yang terpendam, sesungguhnya ia adalah keinginan untuk menyuarakan kebenaran dan dakwah. Ada bayak motif yang memotivasi pena untuk menulis, namun senantiasalah memperbarui niat, bahwa ini semua karena ibadah kepada Nya.

Betapa banyak manusia yang memiliki gagasan dan ide, di dalam dadanya terjadi gejolak yang berkesinambungan, entah perkara siapa dia, apa jabatannya, atau pentingkah dirinya, hingga ide dan gagasan-gagasan tersebut hanyalah sampah yang membusuk. Ia tidak merubah keadaan, pun diketahui orang saja tidak. Hanya memenuhkan sesak di dada, tidak ada yang mendengarkan, atau tak dapat sama sekali ia menyampaikannya.

Menulislah, jika menulis adalah sebuah keinginan, maka tidak perlu jabatan apa-apa, tidak perlu kumpulan massa yang duduk manis untuk mendengarkannya, hanya pena dan kertas. Namun dewasa ini tak susahlah mencari kedua benda itu, jempolmu jadikanlah penanya, selapis layar LCD cukuplah disulap menjadi lembaran kertas yang diinginkan. Ketika sebait paragraf telah rampung, ia akan menjelajahi dunia maya dan realita kehidupan. Ia menyelinap ke dalam setiap hati pembacanya, membuat seseorang tersadar, membangkitkan semangat hidup dan mampu merubah persepsi.

Saat sebuah tulisan mampu menembus langit pikiran banyak orang, mereka sedang bersama kita, satu pikiran, satu langkah dan satu orientasi.

Dengan tulisan dakwah dapat tersampaikan, bahkan dunia ikut mendengarkan, walaupun anda bukan siapa-siapa, tapi dalam dakwah andalah prajurit Allah, dan dalam tulisan anda telah megukir peradaban. Hidup seribu tahun seperti yang disampaikan Chairil Anwar dalam puisinya yang berjudul "Aku" itu, benarlah sebuah kenyataan, dan ia sendiri telah lebih dulu menyontohkan.

Fungsikan Penamu

by on April 23, 2017
*Oleh: Zakia Rahmadani "Saat penamu menulis, seketika itu lembaran kertas ingin terbang jauh melintasi angkasa. Sudahkah kau s...

*Karya: Rakhmi Vegi Arizka

Sore hari itu, di selasar kafe tempat mata kita pertama kali saling beradu, terdengar suara langkah sepatumu yang semakin dekat menghampiriku. Suaranya tidak lebih besar dari degup jantung ini yang semakin membesar terdengar saat tatapan kita saling bertemu.

Bila bukan karena bayangmu yang selalu menggelayut di kantung mata, entah selama apa aku diam-diam mengemas rasa rindu di dada.  Dan dalam diri yang selalu menanti saat kau tersenyum lalu mulai duduk di hadapanku bercerita, aku berkali-kali mengutuk senyummu yang bagaikan riak ombak,  membuat gelombang perasaan ini semakin riuh gemuruh terasa.

Sore hari itu, kita meneguk segelas es kopi, menghilangkan rasa dahaga bersama. Waktu yang hampir sempurna untuk menikmati senja bersama senyumanmu, sampai ketika mata ini berusaha mengeja binar mata pria di hadapanku yang tak biasa saat mengeluarkan secarik surat. Seketika aku merasakan tegukan es kopi yang terasa lebih pahit dari biasanya. Mata ini berusaha membaca dengan seksama nama perempuan yang bersanding dengan namamu.

Kuhirup udara lebih dalam, bibirku terpaksa menyunggingkan senyum bahagia. Itulah detik-detik yang membuatku paham akan arti detak dada yang terasa semakin cepat. Detak yang tak lagi berdegup karena jatuh cinta. Melainkan rasa luka yang mendera, sakit yang tak dapat tenggelam hilang walau bersama senja.

Belum habis persetuan antara rasa bahagia yang semu dan rasa pilu yang nyata, dering telpon membuatmu terburu pamit beranjak. Aku hanya bergeming melihatmu lambat laun hilang dari bidik lensa. Hanya kata sampai jumpa, beserta sepasang kulacino yang kau tinggalkan di meja tempat kita sering bercerita.

Sore hari itu, aku menahan perih yang kau cipta, mencoba menerima perih siksa kenyataan saat raut mukamu bahagia menyebut namanya. Paripurna ketegaranku pecah sempurna, saat rintik hujan basah menerpa wajah. Butir-butirnya melebur bersamaan dengan air yang turun dari pelupuk mata. Kali ini tidak ada lagi yang tersisa, bahkan kulacino yang kau cipta saat kita disini, duduk berdua.

Kulacino dan Sebuah Nama

by on April 22, 2017
*Karya: Rakhmi Vegi Arizka Sore hari itu, di selasar kafe tempat mata kita pertama kali saling beradu, terdengar suara langkah sepa...

Karya: Yazid Arif

Di manakah dirimu?
'tika malam mencapai pertengahannya
berlanjut hingga terbit fajarnya

Di manakah dirimu?
'tika lembaran kalam ilahi mulai berdebu
membacanya lidah terasa kaku

Di manakah dirimu?
'tika keadilan mencapai titik nadir
hingga hidup terasa getir

Di manakah dirimu?
'tika kemanusiaan diperhewankan
hingga kebiadaban dipertontonkan

Seribu alasan 'kan kaulontarkan
Kalau hanya ingin pembenaran

Namun alasan tidak dibutuhkan
Sebab alasan bisa ditelan
Tapi tak mampu jawab persoalan

Kairo, 8 April 2017


Karya: Ridho Al Fajri

Aku pernah goyah berdiri Pada titik paling gamang dalam hidup Dihadapkan pada dua pilihan Antara jatuh lalu binasa Atau kembali lalu menentang badai Aku bahkan kerap berdiskusi perihal pedih Pada akar-akar di palung semesta Pada rinai yang belum sempat bercengkerama dengan awan Pada ribuan kerikil yang dipaksa meninggalkan sungai Airmata, darah, juga nanah Peluh, letih dan kerabatnya lelah Menakdirkan diri senantiasa bersamaku Hingga titah Tuhan kirimkan kemudian Setiap penciptaan berhak atas senyum juga tawa Di sanalah lalu, harapan kupintal ke langit ‘Moga cerita berakhir bahagia'

Secarcik Harapan

by on Maret 31, 2017
Karya: Ridho Al Fajri Aku pernah goyah berdiri Pada titik paling gamang dalam hidup Dihadapkan pada dua pilihan Antara jatuh lalu bin...